Langsung ke konten utama

Surat Cinta Untuk Calon Suami


Assalamualaikum, calon imam.

Setahun yang lalu, tepat tanggal 1 November 2022 aku membuat tulisan yang berjudul ‘Dear, Future Husband’. Di tanggal yang sama namun tahun yang berbeda aku kembali menulis surat untuk kamu, yang akan menjadi imamku kelak.

Kamu masih ingat, kan? Panggilan yang akan aku sebut padamu adalah Abang.

Apa kabarnya Abang di sana? Setelah setahun aku membuat tulisan itu, ternyata kita masih belum Allah takdirkan untuk bertemu sekarang. Membuat diriku penasaran sekaligus bertanya-tanya dalam hati, “Siapa yang akan menjadi imamku kelak?”. Rasa penasaran itu semakin membesar, sehingga aku selalu bersholawat dan berdoa untuk kamu, semoga kamu selalu dalam keadaan baik dan Allah semakin cepat mempertemukan kita.

Abang, selama setahun ini banyak sekali pengalaman yang telah aku lalui sebelum bersamamu. Aku bisa menyelesaikan sarjana ke-1 di UPI. Seusai wisuda bulan Oktober, selama 2 bulan menganggur, aku merasa tekanan batin karena ada beberapa faktor yang tidak akan aku tuliskan di sini. Namun, selama itu aku mengikuti kursus bahasa Inggris, karena kamu tahu kan, kalau aku sangat menyukai Bahasa Inggris. Selain itu, aku juga banyak belajar hal lain untuk memperbaiki diriku yang masih banyak kurangnya.

Di awal tahun 2023, aku diterima kuliah kembali di program pascasarjana di Bandung. Abang harus tahu kalau salah satu wishlist aku di tahun 2023 adalah melanjutkan studi S2. Finally, aku melanjutkan studi S2 di Bandung, aku ngekos di sana, dan aku bertemu banyak orang yang baik serta hebat. Aku selalu berdoa, semoga aku bisa menjadi orang yang hebat seperti mereka.

Abang, aku boleh cerita tentang kuliahku saat ini?

Ternyata, hemmm.. S2 itu tidak semudah yang aku pikirkan, namun aku selalu meyakini dalam diriku kalau aku bisa menyelesaikan studi ini. Abang tahu kan kalau aku wanita kuat? Aku pasti kuat dalam menjalani semua cerita yang sudah dibuat oleh Allah. I can do it althought without you. Selain itu juga di semester 2 ini, aku mengikuti kursus bahasa Inggris kembali, karena nilai TOEFLku masih kurang. Lalu aku banyak belajar tentang hal-hal yang belum aku ketetahui sebelumnya.

Aku jadi teringat, dulu selagi menunggu acara gladi wisuda. Aku menunggu di Mesjid Al-Furqon UPI. Aku berdoa semoga aku bisa kuliah kembali di UPI, alhamdulillah terkabul. Dan semoga suatu saat nanti kita bisa sholat di mesjid tersebut. Entah kamu adalah alumni UPI atau alumni kampus lain.

Dalam kehidupanku di usia 23 tahun ini, sering kali ada yang bertanya padaku ‘Sekarang sama orang mana?’ ‘Calonnya udah ada belum?’ ‘Kapan nikah?’ ‘Si A, udah punya calon, nih, kamu kapan?’ dan yang lainnya. Selalu aku menjawab, “Doakan saja yang terbaik.” Aku selalu bingung apa yang harus aku jawab, Bang. Karena kalau belum waktunya kita dipertemukan, memang apa yang harus aku perbuat? Pernikahan itu bukan sebuah perlombaan, menikah itu karena sudah menemukan yang tepat dan di waktu yang tepat.

Kalau nanti sudah waktunya Allah mempertemukan kita, kamu harus tegas dan buat aku jatuh cinta pada pandangan pertama ya? Aku orang yang sulit jatuh cinta. Aku tidak mudah untuk jatuh cinta. Kalau ditanya apakah aku wanita yang pemilih? Jawabannya iya. Aku juga bingung kalau ditanya type lelaki seperti apa yang aku sukai? Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan fisik.

Jika ditanya imam seperti apa yang aku mau? Tentunya aku menginginkan imam yang seagama, memiliki akhlak yang baik, tidak egois, tidak keras kepala, lemah lembut katanya, bisa berdiskusi segala hal denganku – yang  mendengarkanku ketika berpendapat, menjadi tempat curhat keluh dan kesah, dan intinya sevisi misi.

Lalu apakah aku menginginkan imam yang mapan?

Tanpa dipungkiri aku menginginkan imam yang mapan. Mapan di sini bukan berarti imamku harus seorang yang kaya raya. Bukan. Aku ingin imamku sudah memiliki pekerjaan yang tetap, tidak meminimalkan gajihnya seberapa, namun aku ingin kamu sudah memiliki pekerjaan yang menghasilkan uang.

Akhir-akhir ini, aku sering melihat banyak orang yang sedang umroh melalui sosial media. There is one romantic gate there. This gate is called the romantic gate at the Nabawi's Mosque. Where husbands and wives wait for each other after praying. One day, you and I will wait for each other at this gate (338). Aaamiin..In shaa Allah..

Kita memang tidak tahu kapan akan dipertemukan oleh Allah, aku selalu berdoa yang terbaik agar saat kita dipertemukan, kita dipertemukan di tempat yang terbaik. Aku tidak tahu hal apa saja yang sudah dilalui Abang tanpa aku, begitupun sebaliknya. Abang tidak tahu hal apa saja yang sudah aku lalu tanpa Abang. Tapi, insyaAllah kita akan lalui semua di masa depan. Bimbing aku sampai ke syurgaNya ya, Bang?

Entah kamu berada di belahan bumi yang mana. Ayo, bertemu di tahun baik dengan cara yang paling tepat dan baik menurut Allah. <3

Komentar

  1. Aamiin Allahumma Aamiin.. Semoga segera dipertemukan dengan seseorang yang terbaik menurut Allah ♥

    BalasHapus
  2. Masyaallah, teh nifa. Jadi penasaran siapa ya yg jadi Abangnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermuara

Di usia segini, banyak hal yang membuat berpikir lebih dalam. Masa depan terasa dekat, tetapi juga penuh dengan tanda tanya. Rasanya seperti berdiri di tepi pantai, melihat kapal yang siap berlayar, tapi masih ragu apakah benar ini waktu yang tepat untuk berangkat. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala. Apakah perjalanan ini akan berjalan lancar? Apakah ada badai di tengah laut? Apakah kapal ini cukup kuat untuk menghadapi ombak? Kekhawatiran datang silih berganti, membuat langkah terasa berat. Dalam hidup, keputusan besar sering kali datang tanpa aba-aba. Kadang, ada rasa takut jika memilih jalan yang salah. Namun, tidak ada yang bisa memastikan mana yang benar dan mana yang tidak, kecuali dengan mencoba. Karena itu, sejak awal, lebih banyak menggunakan logika. Bukan berarti hati tidak berperan, tetapi jika terlalu terbawa perasaan, perjalanan bisa menjadi tidak menentu. Logika membantu melihat segala kemungkinan dengan lebih jelas dan menyiapkan rencana cadangan jika sesu...

Apakah Pendidikan Tinggi bagi Perempuan untuk Menyaingi Laki-laki?

Pendidikan adalah hak setiap individu, tanpa memandang gender, dan merupakan sarana untuk mengembangkan potensi, memperluas wawasan, serta memperoleh keterampilan yang berguna dalam kehidupan. Dengan pendidikan, perempuan dapat lebih mandiri dalam berpikir dan bertindak, serta memiliki kepercayaan diri yang lebih besar dalam menghadapi berbagai tantangan. Pendidikan tinggi bagi perempuan bukanlah sarana untuk menyaingi laki-laki, melainkan untuk memberdayakan diri dan memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat. Dalam era modern, perempuan memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi intelektualnya, menggali ilmu pengetahuan, serta meningkatkan kualitas hidupnya. Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang memperluas wawasan, membangun karakter, dan meningkatkan kemampuan dalam berbagai aspek kehidupan. Perempuan yang berpendidikan tinggi memiliki kesempatan lebih besar untuk mengambil keputusan yang bijak dalam kehidupan pribadi, keluarga, ...