Langsung ke konten utama

Kita ini apa di mata Allah?

 Kita ini kecil. Sangat kecil.

Di antara luasnya langit dan bumi, kita hanya setitik makhluk yang sering kali merasa paling besar.

 

Namun di mata Allah, kita bukan hanya kecil.

 

Kita adalah hamba yang diciptakan dengan penuh kasih.

Diberi hati untuk merasa, diberi akal untuk berpikir, dan diberi kesempatan untuk kembali, lagi dan lagi.

 

Kita ini bukan makhluk yang sempurna.

Kita sering salah, sering lalai, sering jatuh pada hal-hal yang sama.

Namun anehnya, Allah tidak pernah lelah menunggu kita pulang.

 

Di mata Allah, kita adalah pendosa yang masih diberi waktu untuk bertaubat,

Adalah hamba yang meski berkali-kali menjauh, tetap dipanggil dengan lembut.

 

Bahkan ketika kita lupa pada-Nya, Dia tidak pernah lupa pada kita.

Lalu, kita ini apa di mata Allah?

 

Kita adalah hamba yang diuji, bukan dibenci.

Kita adalah yang dicintai, meski sering mengkhianati.

Kita adalah yang selalu punya jalan pulang, selama masih mau kembali.

 

Mungkin kita merasa tidak berharga di dunia.

Namun di sisi Allah, satu doa kecil saja bisa sangat berarti.

 

Satu air mata penyesalan bisa lebih berharga dari dunia dan seisinya.

 

Jangan pernah merasa terlalu jaug.

Karena sejauh apapun kita pergi, Allah selalu lebih dekat dari yang kita kira.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pria matang atau setengah matang?

Sore itu, gue duduk di warung kopi Jogja, menikmati segelas teh manis yang masih mengepul. Mbok warung nanya karena gue beli indomie rebus pakai telur tapi jangan pakai bawang goreng, "Mau mateng atau setengah mateng, Neng?" Gue langsung jawab, "Mateng aja, buk, soalnya selera saya mas-mas Jawa matang yang kalau dipanggil jawabnya dalam, sayang."sambil nada bercanda, yang langsung diketawain sama temen-temen gue. ANG ANG ANG. [Eh btw gue cuma bercanda aja ya, gue sih gak milih harus suku apa. Asalkan sukunya jangan rorombeheun wae lah ya!]  Hidup ini kadang kayak pesenan telur di warkop. Ada yang lebih suka setengah matang, ada yang maunya mateng. Sama kayak pilihan hidup, ada yang masih ragu-ragu, ada yang udah yakin melangkah. Gue sih, kalau soal pilihan, maunya yang pasti-pasti aja. Kata orang, hidup itu harus dijalani dengan santai. Tapi gimana mau santai kalau tiap hari harus mikirin kerjaan, nulis apa lagi ya buat blogspot, sama chat yang cuma dibaca tanpa dib...

Serta Mulia, Nifa.

Bulan Juni datang lagi. Entah kenapa, rasanya bulan ini selalu membawa semacam nuansa yang berbeda—lebih tenang, lebih reflektif, lebih... dalam. Mungkin karena di bulan ini aku kembali bertambah usia. Kini aku 25. Seperempat abad. Dulu kupikir saat umur 25 nanti, semuanya akan terasa jelas. Kupikir aku akan jadi orang dewasa yang tahu apa yang harus dilakukan setiap hari. Tapi nyatanya? Aku masih sering ragu, masih suka merasa kehilangan arah, masih belajar menerima bahwa hidup tak selalu sesuai rencana. Ada hari-hari di bulan ini yang aku lewati dengan tawa. Ada juga yang sunyi, yang membuatku diam menatap langit dan bertanya: “Apakah aku sudah cukup?” Aku melihat ke belakang, ke tahun-tahun yang telah lewat. Ada begitu banyak hal yang ingin aku peluk—kesalahan, keputusan nekat, mimpi yang tertunda, hati yang pernah patah, dan keberanian yang tumbuh perlahan. Aku mungkin belum jadi versi terbaik dari diriku, tapi aku tahu aku sedang menuju ke sana, meski dengan langkah-langkah kec...

Apakah Pendidikan Tinggi bagi Perempuan untuk Menyaingi Laki-laki?

Pendidikan adalah hak setiap individu, tanpa memandang gender, dan merupakan sarana untuk mengembangkan potensi, memperluas wawasan, serta memperoleh keterampilan yang berguna dalam kehidupan. Dengan pendidikan, perempuan dapat lebih mandiri dalam berpikir dan bertindak, serta memiliki kepercayaan diri yang lebih besar dalam menghadapi berbagai tantangan. Pendidikan tinggi bagi perempuan bukanlah sarana untuk menyaingi laki-laki, melainkan untuk memberdayakan diri dan memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat. Dalam era modern, perempuan memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi intelektualnya, menggali ilmu pengetahuan, serta meningkatkan kualitas hidupnya. Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang memperluas wawasan, membangun karakter, dan meningkatkan kemampuan dalam berbagai aspek kehidupan. Perempuan yang berpendidikan tinggi memiliki kesempatan lebih besar untuk mengambil keputusan yang bijak dalam kehidupan pribadi, keluarga, ...