Langsung ke konten utama

Kita ini apa di mata Allah?

 Kita ini kecil. Sangat kecil.

Di antara luasnya langit dan bumi, kita hanya setitik makhluk yang sering kali merasa paling besar.

 

Namun di mata Allah, kita bukan hanya kecil.

 

Kita adalah hamba yang diciptakan dengan penuh kasih.

Diberi hati untuk merasa, diberi akal untuk berpikir, dan diberi kesempatan untuk kembali, lagi dan lagi.

 

Kita ini bukan makhluk yang sempurna.

Kita sering salah, sering lalai, sering jatuh pada hal-hal yang sama.

Namun anehnya, Allah tidak pernah lelah menunggu kita pulang.

 

Di mata Allah, kita adalah pendosa yang masih diberi waktu untuk bertaubat,

Adalah hamba yang meski berkali-kali menjauh, tetap dipanggil dengan lembut.

 

Bahkan ketika kita lupa pada-Nya, Dia tidak pernah lupa pada kita.

Lalu, kita ini apa di mata Allah?

 

Kita adalah hamba yang diuji, bukan dibenci.

Kita adalah yang dicintai, meski sering mengkhianati.

Kita adalah yang selalu punya jalan pulang, selama masih mau kembali.

 

Mungkin kita merasa tidak berharga di dunia.

Namun di sisi Allah, satu doa kecil saja bisa sangat berarti.

 

Satu air mata penyesalan bisa lebih berharga dari dunia dan seisinya.

 

Jangan pernah merasa terlalu jaug.

Karena sejauh apapun kita pergi, Allah selalu lebih dekat dari yang kita kira.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Calon Suami

Assalamualaikum, calon imam. Setahun yang lalu, tepat tanggal 1 November 2022 aku membuat tulisan yang berjudul ‘Dear, Future Husband’. Di tanggal yang sama namun tahun yang berbeda aku kembali menulis surat untuk kamu, yang akan menjadi imamku kelak. Kamu masih ingat, kan? Panggilan yang akan aku sebut padamu adalah Abang. Apa kabarnya Abang di sana? Setelah setahun aku membuat tulisan itu, ternyata kita masih belum Allah takdirkan untuk bertemu sekarang. Membuat diriku penasaran sekaligus bertanya-tanya dalam hati, “ Siapa yang akan menjadi imamku kelak ?”. Rasa penasaran itu semakin membesar, sehingga aku selalu bersholawat dan berdoa untuk kamu, semoga kamu selalu dalam keadaan baik dan Allah semakin cepat mempertemukan kita. Abang, selama setahun ini banyak sekali pengalaman yang telah aku lalui sebelum bersamamu. Aku bisa menyelesaikan sarjana di UPI. Seusai wisuda bulan Oktober, selama 2 bulan menganggur, aku merasa tekanan batin karena ada beberapa faktor yang tidak aka...

Bermuara

Di usia segini, banyak hal yang membuat berpikir lebih dalam. Masa depan terasa dekat, tetapi juga penuh dengan tanda tanya. Rasanya seperti berdiri di tepi pantai, melihat kapal yang siap berlayar, tapi masih ragu apakah benar ini waktu yang tepat untuk berangkat. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala. Apakah perjalanan ini akan berjalan lancar? Apakah ada badai di tengah laut? Apakah kapal ini cukup kuat untuk menghadapi ombak? Kekhawatiran datang silih berganti, membuat langkah terasa berat. Dalam hidup, keputusan besar sering kali datang tanpa aba-aba. Kadang, ada rasa takut jika memilih jalan yang salah. Namun, tidak ada yang bisa memastikan mana yang benar dan mana yang tidak, kecuali dengan mencoba. Karena itu, sejak awal, lebih banyak menggunakan logika. Bukan berarti hati tidak berperan, tetapi jika terlalu terbawa perasaan, perjalanan bisa menjadi tidak menentu. Logika membantu melihat segala kemungkinan dengan lebih jelas dan menyiapkan rencana cadangan jika sesu...

Serta Mulia, Nifa.

Bulan Juni datang lagi. Entah kenapa, rasanya bulan ini selalu membawa semacam nuansa yang berbeda—lebih tenang, lebih reflektif, lebih... dalam. Mungkin karena di bulan ini aku kembali bertambah usia. Kini aku 25. Seperempat abad. Dulu kupikir saat umur 25 nanti, semuanya akan terasa jelas. Kupikir aku akan jadi orang dewasa yang tahu apa yang harus dilakukan setiap hari. Tapi nyatanya? Aku masih sering ragu, masih suka merasa kehilangan arah, masih belajar menerima bahwa hidup tak selalu sesuai rencana. Ada hari-hari di bulan ini yang aku lewati dengan tawa. Ada juga yang sunyi, yang membuatku diam menatap langit dan bertanya: “Apakah aku sudah cukup?” Aku melihat ke belakang, ke tahun-tahun yang telah lewat. Ada begitu banyak hal yang ingin aku peluk—kesalahan, keputusan nekat, mimpi yang tertunda, hati yang pernah patah, dan keberanian yang tumbuh perlahan. Aku mungkin belum jadi versi terbaik dari diriku, tapi aku tahu aku sedang menuju ke sana, meski dengan langkah-langkah kec...