Langsung ke konten utama

Bermuara

Di usia segini, banyak hal yang membuat berpikir lebih dalam. Masa depan terasa dekat, tetapi juga penuh dengan tanda tanya. Rasanya seperti berdiri di tepi pantai, melihat kapal yang siap berlayar, tapi masih ragu apakah benar ini waktu yang tepat untuk berangkat.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala. Apakah perjalanan ini akan berjalan lancar? Apakah ada badai di tengah laut? Apakah kapal ini cukup kuat untuk menghadapi ombak? Kekhawatiran datang silih berganti, membuat langkah terasa berat.

Dalam hidup, keputusan besar sering kali datang tanpa aba-aba. Kadang, ada rasa takut jika memilih jalan yang salah. Namun, tidak ada yang bisa memastikan mana yang benar dan mana yang tidak, kecuali dengan mencoba.

Karena itu, sejak awal, lebih banyak menggunakan logika. Bukan berarti hati tidak berperan, tetapi jika terlalu terbawa perasaan, perjalanan bisa menjadi tidak menentu. Logika membantu melihat segala kemungkinan dengan lebih jelas dan menyiapkan rencana cadangan jika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Namun, meskipun sudah berpikir logis, tetap saja ada hal-hal di luar kendali. Hidup tidak bisa selalu diprediksi. Ada kalanya, yang sudah direncanakan dengan matang tetap mengalami hambatan di tengah jalan.

Di saat seperti itulah keberanian menjadi penting. Berani melangkah meskipun belum tahu pasti apa yang akan terjadi. Berani mencoba meskipun ada ketakutan akan kegagalan. Sebab, tanpa keberanian, langkah akan selalu tertahan di tempat yang sama.

Banyak orang memilih untuk menunggu waktu yang tepat, tetapi kapan waktu yang benar-benar tepat? Tidak ada yang bisa menjamin kapan saat terbaik untuk memulai sesuatu. Kadang, satu-satunya cara untuk tahu adalah dengan berjalan dan merasakan sendiri.

Seperti kapal yang bersiap berlayar, akan selalu ada risiko. Bisa jadi ombak besar menghadang, bisa jadi perjalanan terasa berat. Tetapi kapal tidak dibuat untuk diam di pelabuhan selamanya. Ia dibuat untuk menjelajahi lautan.

Mungkin di tengah perjalanan, kapal akan menghadapi badai. Mungkin juga ada saat-saat di mana ingin menyerah dan kembali. Namun, satu-satunya cara untuk mencapai tujuan adalah dengan terus maju, bukan dengan berdiam diri.

Setiap keputusan membawa konsekuensi. Bisa saja jalan yang dipilih sulit, tetapi jika terus ragu dan tidak pernah melangkah, tidak akan ada perubahan. Tetap berada di zona nyaman memang terasa aman, tetapi apakah itu yang benar-benar diinginkan?

Semua orang punya impian dan tujuan. Namun, impian itu tidak akan terwujud jika hanya disimpan di dalam hati tanpa ada tindakan nyata. Memulai sesuatu mungkin terasa menakutkan, tetapi jika tidak pernah mencoba, bagaimana bisa tahu apa yang ada di depan?

Pada akhirnya, hidup selalu penuh dengan ketidakpastian. Tidak semua hal bisa dikendalikan, tetapi yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Jika kapal sudah siap, mengapa harus terus menunda keberangkatan?

Mungkin perjalanannya tidak akan selalu mudah. Akan ada rintangan, ada tantangan, ada saat-saat di mana semuanya terasa berat. Tapi di balik semua itu, ada kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan menemukan hal-hal baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Jadi, apakah kapal ini akan berlayar? Jawabannya ada pada keberanian untuk mengambil langkah pertama. Sebab, satu-satunya cara untuk tahu sampai sejauh mana bisa melaju adalah dengan berani meninggalkan pelabuhan dan menghadapi lautan luas.

Hidup bukan tentang menunggu saat yang sempurna, tetapi tentang bagaimana berani mengambil keputusan dan melangkah meskipun ada ketakutan. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya mencapai tujuan, tetapi juga bagaimana menikmati setiap proses.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Calon Suami

Assalamualaikum, calon imam. Setahun yang lalu, tepat tanggal 1 November 2022 aku membuat tulisan yang berjudul ‘Dear, Future Husband’. Di tanggal yang sama namun tahun yang berbeda aku kembali menulis surat untuk kamu, yang akan menjadi imamku kelak. Kamu masih ingat, kan? Panggilan yang akan aku sebut padamu adalah Abang. Apa kabarnya Abang di sana? Setelah setahun aku membuat tulisan itu, ternyata kita masih belum Allah takdirkan untuk bertemu sekarang. Membuat diriku penasaran sekaligus bertanya-tanya dalam hati, “ Siapa yang akan menjadi imamku kelak ?”. Rasa penasaran itu semakin membesar, sehingga aku selalu bersholawat dan berdoa untuk kamu, semoga kamu selalu dalam keadaan baik dan Allah semakin cepat mempertemukan kita. Abang, selama setahun ini banyak sekali pengalaman yang telah aku lalui sebelum bersamamu. Aku bisa menyelesaikan sarjana di UPI. Seusai wisuda bulan Oktober, selama 2 bulan menganggur, aku merasa tekanan batin karena ada beberapa faktor yang tidak aka...

Serta Mulia, Nifa.

Bulan Juni datang lagi. Entah kenapa, rasanya bulan ini selalu membawa semacam nuansa yang berbeda—lebih tenang, lebih reflektif, lebih... dalam. Mungkin karena di bulan ini aku kembali bertambah usia. Kini aku 25. Seperempat abad. Dulu kupikir saat umur 25 nanti, semuanya akan terasa jelas. Kupikir aku akan jadi orang dewasa yang tahu apa yang harus dilakukan setiap hari. Tapi nyatanya? Aku masih sering ragu, masih suka merasa kehilangan arah, masih belajar menerima bahwa hidup tak selalu sesuai rencana. Ada hari-hari di bulan ini yang aku lewati dengan tawa. Ada juga yang sunyi, yang membuatku diam menatap langit dan bertanya: “Apakah aku sudah cukup?” Aku melihat ke belakang, ke tahun-tahun yang telah lewat. Ada begitu banyak hal yang ingin aku peluk—kesalahan, keputusan nekat, mimpi yang tertunda, hati yang pernah patah, dan keberanian yang tumbuh perlahan. Aku mungkin belum jadi versi terbaik dari diriku, tapi aku tahu aku sedang menuju ke sana, meski dengan langkah-langkah kec...