Langsung ke konten utama

Gwenchana~

Ada saat-saat di hidup ini ketika merasa lelah menunggu. Sudah memberi ruang di hati untuk seseorang, berharap dia akan mengisinya dengan ketulusan, tetapi yang datang justru kekecewaan. Telah mencoba, memberi kesempatan, bahkan berjuang mempertahankan yang seharusnya diperjuangkan bersama. Namun, yang didapatkan hanyalah rasa diabaikan, ditinggalkan tanpa kepastian.

Mungkin sekarang hati terasa berat. Mungkin bertanya-tanya, "Apa ada yang salah denganku? Kenapa selalu aku yang ditinggalkan?" Tapi percayalah, ini bukan tentang yang kurang baik, melainkan tentang mereka yang memang bukan orang yang tepat. Mereka hanyalah persinggahan, bukan tujuan akhirnya.

Akan tiba saatnya, seseorang datang tanpa membuat merasa tidak cukup. Dia tidak akan membiarkan menunggu dalam ketidakpastian atau mempertanyakan apakah kamu layak diperjuangkan. Dia akan hadir dengan keyakinan penuh, menggenggam tanganmu dengan ketulusan, dan berkata, "Aku ingin kita berjalan bersama."

Saat itu tiba, akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa semua luka ini ada tujuannya. Semua air mata yang pernah jatuh, semua doa yang pernah dipanjatkan di sepertiga malam, semua harapan yang sempat hancur—semuanya bukan sia-sia. Mereka adalah bagian dari perjalanan cerita menuju seseorang yang benar-benar ditakdirkan untukmu.

Ketika akhirnya bertemu dengannya, akan bersyukur bahwa segala penantian ini membentuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih siap menerima cinta yang sesungguhnya. Lalu akan menyadari bahwa jika dulu dipertemukan lebih cepat, mungkin hati belum cukup dewasa untuk menghargai kebersamaan yang akan kalian bangun.

Orang yang tepat tidak akan membuat merasa tidak cukup. Dia tidak akan menghilang tanpa alasan, tidak akan membiarkan menunggu tanpa kepastian. Dia akan hadir dengan kesungguhan, tanpa perlu mengejarnya, tanpa perlu meragukan niatnya.

Sampai saat itu tiba, tetaplah percaya bahwa Allah sedang menyiapkan yang terbaik untukmu. Jangan biarkan kekecewaan membuat menutup hati. Jangan biarkan luka membuat takut untuk berharap lagi. Karena cinta yang tepat akan datang di waktu yang tepat—bukan lebih cepat, bukan lebih lambat, tetapi saat benar-benar siap.

Dan ketika akhirnya menemukan dia yang benar-benar untukmu, semua kesedihan ini akan terasa kecil dibanding kebahagiaan yang akan kamu rasakan. Semua penantian ini akan terasa begitu berharga. Semua luka ini akan menjadi cerita yang akhirnya menemukan akhir yang indah.

Tidak apa-apa, bertahanlah sebentar lagi. Percaya bahwa kebahagiaan sedang disiapkan oleh Allah menuju hati. Ketika saat itu tiba, akan mengerti mengapa semuanya harus terjadi seperti ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Calon Suami

Assalamualaikum, calon imam. Setahun yang lalu, tepat tanggal 1 November 2022 aku membuat tulisan yang berjudul ‘Dear, Future Husband’. Di tanggal yang sama namun tahun yang berbeda aku kembali menulis surat untuk kamu, yang akan menjadi imamku kelak. Kamu masih ingat, kan? Panggilan yang akan aku sebut padamu adalah Abang. Apa kabarnya Abang di sana? Setelah setahun aku membuat tulisan itu, ternyata kita masih belum Allah takdirkan untuk bertemu sekarang. Membuat diriku penasaran sekaligus bertanya-tanya dalam hati, “ Siapa yang akan menjadi imamku kelak ?”. Rasa penasaran itu semakin membesar, sehingga aku selalu bersholawat dan berdoa untuk kamu, semoga kamu selalu dalam keadaan baik dan Allah semakin cepat mempertemukan kita. Abang, selama setahun ini banyak sekali pengalaman yang telah aku lalui sebelum bersamamu. Aku bisa menyelesaikan sarjana di UPI. Seusai wisuda bulan Oktober, selama 2 bulan menganggur, aku merasa tekanan batin karena ada beberapa faktor yang tidak aka...

Bermuara

Di usia segini, banyak hal yang membuat berpikir lebih dalam. Masa depan terasa dekat, tetapi juga penuh dengan tanda tanya. Rasanya seperti berdiri di tepi pantai, melihat kapal yang siap berlayar, tapi masih ragu apakah benar ini waktu yang tepat untuk berangkat. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala. Apakah perjalanan ini akan berjalan lancar? Apakah ada badai di tengah laut? Apakah kapal ini cukup kuat untuk menghadapi ombak? Kekhawatiran datang silih berganti, membuat langkah terasa berat. Dalam hidup, keputusan besar sering kali datang tanpa aba-aba. Kadang, ada rasa takut jika memilih jalan yang salah. Namun, tidak ada yang bisa memastikan mana yang benar dan mana yang tidak, kecuali dengan mencoba. Karena itu, sejak awal, lebih banyak menggunakan logika. Bukan berarti hati tidak berperan, tetapi jika terlalu terbawa perasaan, perjalanan bisa menjadi tidak menentu. Logika membantu melihat segala kemungkinan dengan lebih jelas dan menyiapkan rencana cadangan jika sesu...

Serta Mulia, Nifa.

Bulan Juni datang lagi. Entah kenapa, rasanya bulan ini selalu membawa semacam nuansa yang berbeda—lebih tenang, lebih reflektif, lebih... dalam. Mungkin karena di bulan ini aku kembali bertambah usia. Kini aku 25. Seperempat abad. Dulu kupikir saat umur 25 nanti, semuanya akan terasa jelas. Kupikir aku akan jadi orang dewasa yang tahu apa yang harus dilakukan setiap hari. Tapi nyatanya? Aku masih sering ragu, masih suka merasa kehilangan arah, masih belajar menerima bahwa hidup tak selalu sesuai rencana. Ada hari-hari di bulan ini yang aku lewati dengan tawa. Ada juga yang sunyi, yang membuatku diam menatap langit dan bertanya: “Apakah aku sudah cukup?” Aku melihat ke belakang, ke tahun-tahun yang telah lewat. Ada begitu banyak hal yang ingin aku peluk—kesalahan, keputusan nekat, mimpi yang tertunda, hati yang pernah patah, dan keberanian yang tumbuh perlahan. Aku mungkin belum jadi versi terbaik dari diriku, tapi aku tahu aku sedang menuju ke sana, meski dengan langkah-langkah kec...