Selama beberapa bulan terakhir, aku memiliki sebuah blush on yang sebenarnya sempat kuragukan. Warnanya berbeda dari yang biasa kupakai, sehingga kupikir mungkin tidak akan cocok di wajahku. Lagipula, sudah lama sekali aku tidak menggunakan blush on. Meski begitu, aku tetap mencoba memberanikan diri untuk memakainya. Lama-kelamaan, blush on yang awalnya terasa tidak cocok di wajahku justru mulai terasa pas. Aku mulai merasa warnanya menyatu dengan wajahku. Namun, sebelum benar-benar bisa sering kupakai, blush on itu malah hilang. Entah di mana. Mungkin memang sudah jalannya. Seorang temanku berkata, “Sudah, ikhlaskan saja. Mungkin Allah sedang menyuruhmu untuk tampil tanpa make up, lebih natural.” Kalimat itu membuatku tersenyum kecil, meskipun di dalam hati aku masih memikirkan produk make up yang bernama blush on itu. Ikhlas? Banyak orang mengatakan bahwa ketika sesuatu diambil oleh Allah, kita harus belajar untuk ikhlas. Mereka juga sering berkata bahwa Allah akan menggant...
Membentuk identitas Mulism pada anak berarti menanamkan iman, akhlak, dan kebiasaan Islami sejak kecil sehingga agama terasa sebagai bagian alami dari hidupnya. Hal ini bukan hanya melalui nasihat, tetapi juga contoh, lingkungan dan pengalaman sehari-hari. Lalu bagaimana cara yang bisa dilakukan? 1. Menanamkan tauhid sejak dini Ajarkan anak mengenal Allah sebagai Pencipta dan Penyayang. Contohnya: - Mengajak anak melihat alam lalu mengatakan: "Ini ciptaan Allah." - Membiasakan kalimat seperti Alhamdulillah, MasyaAllah, Bismillah. Tujuannya agar anak merasa dekat dengan Allah, bukan hanya takut pada aturan. 2. Orang tua menjadi teladan Anak paling banyak belajar dari perilaku orang tua. Jika orang tua: - sholat tepat waktu - berkata jujur - bersikap lembut maka anak akan meniru tanpa banyak diperintah. 3. Membiasakan ibadah secara bertahap Bukan memaksa, tetapi mengenalkan dengan cara menyenangkan. - mengajak shalat berjamaah - menghafal doa pendek - membaca kisah nabi sebelum...