Kita ini kecil. Sangat kecil. Di antara luasnya langit dan bumi, kita hanya setitik makhluk yang sering kali merasa paling besar. Namun di mata Allah, kita bukan hanya kecil. Kita adalah hamba yang diciptakan dengan penuh kasih. Diberi hati untuk merasa, diberi akal untuk berpikir, dan diberi kesempatan untuk kembali, lagi dan lagi. Kita ini bukan makhluk yang sempurna. Kita sering salah, sering lalai, sering jatuh pada hal-hal yang sama. Namun anehnya, Allah tidak pernah lelah menunggu kita pulang. Di mata Allah, kita adalah pendosa yang masih diberi waktu untuk bertaubat, Adalah hamba yang meski berkali-kali menjauh, tetap dipanggil dengan lembut. Bahkan ketika kita lupa pada-Nya, Dia tidak pernah lupa pada kita. Lalu, kita ini apa di mata Allah? Kita adalah hamba yang diuji, bukan dibenci. Kita adalah yang dicintai, meski sering mengkhianati. Kita adalah yang selalu punya jalan pulang, selama masi...
Membentuk identitas Mulism pada anak berarti menanamkan iman, akhlak, dan kebiasaan Islami sejak kecil sehingga agama terasa sebagai bagian alami dari hidupnya. Hal ini bukan hanya melalui nasihat, tetapi juga contoh, lingkungan dan pengalaman sehari-hari. Lalu bagaimana cara yang bisa dilakukan? 1. Menanamkan tauhid sejak dini Ajarkan anak mengenal Allah sebagai Pencipta dan Penyayang. Contohnya: - Mengajak anak melihat alam lalu mengatakan: "Ini ciptaan Allah." - Membiasakan kalimat seperti Alhamdulillah, MasyaAllah, Bismillah. Tujuannya agar anak merasa dekat dengan Allah, bukan hanya takut pada aturan. 2. Orang tua menjadi teladan Anak paling banyak belajar dari perilaku orang tua. Jika orang tua: - sholat tepat waktu - berkata jujur - bersikap lembut maka anak akan meniru tanpa banyak diperintah. 3. Membiasakan ibadah secara bertahap Bukan memaksa, tetapi mengenalkan dengan cara menyenangkan. - mengajak shalat berjamaah - menghafal doa pendek - membaca kisah nabi sebelum...