Selama beberapa bulan terakhir,
aku memiliki sebuah blush on yang sebenarnya sempat kuragukan. Warnanya berbeda
dari yang biasa kupakai, sehingga kupikir mungkin tidak akan cocok di wajahku.
Lagipula, sudah lama sekali aku tidak menggunakan blush on.
Meski begitu, aku tetap
mencoba memberanikan diri untuk memakainya.
Lama-kelamaan, blush on yang
awalnya terasa tidak cocok di wajahku justru mulai terasa pas. Aku mulai merasa
warnanya menyatu dengan wajahku. Namun, sebelum benar-benar bisa sering
kupakai, blush on itu malah hilang. Entah di mana. Mungkin memang sudah jalannya.
Seorang temanku berkata,
“Sudah, ikhlaskan saja. Mungkin Allah sedang menyuruhmu untuk tampil tanpa make
up, lebih natural.” Kalimat itu membuatku tersenyum kecil, meskipun di dalam
hati aku masih memikirkan produk make up yang bernama blush on itu.
Ikhlas?
Banyak orang mengatakan bahwa
ketika sesuatu diambil oleh Allah, kita harus belajar untuk ikhlas. Mereka juga
sering berkata bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.
Namun bagiku, belajar untuk ikhlas bukanlah hal yang mudah.
Entah mengapa, setiap kali
mencoba memahaminya, rasanya begitu berat. Hari demi hari aku merasa proses
belajar ikhlas itu seperti memakan duri—sesuatu yang sangat tidak enak dan
menyakitkan. Rasanya perih sekali di hati, seolah ada bagian dari diri yang
harus dipaksa melepaskan apa yang sebenarnya masih ingin digenggam.
Mungkin memang seperti itulah
prosesnya. Ikhlas bukan sesuatu yang datang seketika, melainkan sesuatu yang
dipelajari perlahan. Kadang melalui rasa kehilangan, kadang melalui luka kecil
yang tidak terlihat. Hingga suatu hari, tanpa disadari, hati mulai belajar
menerima. Walaupun masih terasa sulit.
Dan sebenarnya, ini bukan
tentang blush on. Ini hanya tentang bagaimana hati sedang belajar melepaskan
sesuatu—sekecil apa pun itu—dan perlahan memahami arti ikhlas.
Blush on favoritku, apakah kamu sudah berada di tempat yang terbaik? :")
Komentar
Posting Komentar