Langsung ke konten utama

Kenangan, Ilmu, dan Kisah di UPI Edun


Rasanya seperti baru kemarin saya melangkahkan kaki ke kampus ini, penuh dengan harapan, semangat, dan tekad untuk menimba ilmu. Namun, waktu berjalan begitu cepat, dan kini tibalah saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal. Perpisahan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru yang akan saya tempuh dengan segala bekal yang telah diberikan oleh UPI.

UPI bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga rumah yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik. Di sini, saya mendapatkan pengalaman berharga yang tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga mengasah karakter dan keterampilan saya sebagai seorang pendidik. Setiap mata kuliah, diskusi, penelitian, dan proyek yang saya jalani memberikan pelajaran berharga yang akan terus saya ingat dan manfaatkan di masa depan.

Saya sangat bersyukur telah dipertemukan dengan dosen-dosen luar biasa yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi mentor dan inspirasi dalam akademik saya. Beliau telah membimbing dengan penuh kesabaran, memberikan motivasi saat saya merasa lelah, serta mendorong saya untuk terus berpikir kritis dan inovatif. Keberhasilan yang saya raih hari ini tidak lepas dari peran besarnya.

Selain itu, saya juga merasa beruntung bisa berjuang bersama teman-teman yang luar biasa. Kami belajar, berdiskusi, bahkan menghadapi tantangan bersama. Ada saat-saat sulit yang membuat kami hampir menyerah, tetapi kebersamaanlah yang menguatkan langkah kami untuk terus maju. Tawa, tangis, dan perjuangan bersama menjadi bagian dari perjalanan yang tak akan tergantikan.

Tak hanya di dalam kelas, saya juga banyak belajar dari berbagai kegiatan prodi dan penelitian yang saya ikuti. Pengalaman ini memperkaya perspektif saya tentang dunia pendidikan dan membuka peluang untuk berkontribusi lebih luas. Melalui berbagai seminar, konferensi, dan kolaborasi akademik, saya semakin menyadari betapa pentingnya peran seorang pendidik dalam membangun masa depan generasi muda.

UPI telah memberikan saya begitu banyak kenangan indah. Dari pagi-pagi berangkat kuliah dengan penuh semangat, hingga pulang malam panjang ketika jadwalnya perkuliahan. Setiap sudut kampus menyimpan cerita, setiap pertemuan membawa kenangan, dan setiap langkah yang saya lalui di sini telah membentuk diri saya yang sekarang.

Kini, saat saya melangkah keluar dari gerbang UPI, saya membawa serta semua ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai yang telah ditanamkan selama enam tahun. Saya sadar bahwa tantangan di luar sana tidak akan mudah, tetapi saya percaya bahwa bekal dari UPI akan menjadi kompas dalam menghadapi setiap rintangan.

Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh civitas akademika UPI. Kepada para dosen, tenaga kependidikan, teman-teman, serta semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan saya di kampus ini. Tanpa kalian, saya tidak akan berada di titik ini.

Meskipun saya harus meninggalkan kampus ini, cinta dan rasa bangga terhadap UPI akan selalu saya bawa ke mana pun saya pergi. Semoga UPI terus melahirkan generasi penerus yang cerdas, inovatif, dan berdedikasi untuk dunia pendidikan. Saya berharap suatu hari nanti bisa kembali, baik sebagai alumni yang berkontribusi atau sebagai bagian dari komunitas akademik yang terus berkembang.

Selamat tinggal, UPI. Terima kasih atas semua ilmu, pengalaman, dan kenangan yang tak ternilai harganya. Catat, bahwa ini bukan perpisahan selamanya, melainkan awal dari perjalanan baru. Sampai jumpa di lain kesempatan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Calon Suami

Assalamualaikum, calon imam. Setahun yang lalu, tepat tanggal 1 November 2022 aku membuat tulisan yang berjudul ‘Dear, Future Husband’. Di tanggal yang sama namun tahun yang berbeda aku kembali menulis surat untuk kamu, yang akan menjadi imamku kelak. Kamu masih ingat, kan? Panggilan yang akan aku sebut padamu adalah Abang. Apa kabarnya Abang di sana? Setelah setahun aku membuat tulisan itu, ternyata kita masih belum Allah takdirkan untuk bertemu sekarang. Membuat diriku penasaran sekaligus bertanya-tanya dalam hati, “ Siapa yang akan menjadi imamku kelak ?”. Rasa penasaran itu semakin membesar, sehingga aku selalu bersholawat dan berdoa untuk kamu, semoga kamu selalu dalam keadaan baik dan Allah semakin cepat mempertemukan kita. Abang, selama setahun ini banyak sekali pengalaman yang telah aku lalui sebelum bersamamu. Aku bisa menyelesaikan sarjana di UPI. Seusai wisuda bulan Oktober, selama 2 bulan menganggur, aku merasa tekanan batin karena ada beberapa faktor yang tidak aka...

Bermuara

Di usia segini, banyak hal yang membuat berpikir lebih dalam. Masa depan terasa dekat, tetapi juga penuh dengan tanda tanya. Rasanya seperti berdiri di tepi pantai, melihat kapal yang siap berlayar, tapi masih ragu apakah benar ini waktu yang tepat untuk berangkat. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala. Apakah perjalanan ini akan berjalan lancar? Apakah ada badai di tengah laut? Apakah kapal ini cukup kuat untuk menghadapi ombak? Kekhawatiran datang silih berganti, membuat langkah terasa berat. Dalam hidup, keputusan besar sering kali datang tanpa aba-aba. Kadang, ada rasa takut jika memilih jalan yang salah. Namun, tidak ada yang bisa memastikan mana yang benar dan mana yang tidak, kecuali dengan mencoba. Karena itu, sejak awal, lebih banyak menggunakan logika. Bukan berarti hati tidak berperan, tetapi jika terlalu terbawa perasaan, perjalanan bisa menjadi tidak menentu. Logika membantu melihat segala kemungkinan dengan lebih jelas dan menyiapkan rencana cadangan jika sesu...

Serta Mulia, Nifa.

Bulan Juni datang lagi. Entah kenapa, rasanya bulan ini selalu membawa semacam nuansa yang berbeda—lebih tenang, lebih reflektif, lebih... dalam. Mungkin karena di bulan ini aku kembali bertambah usia. Kini aku 25. Seperempat abad. Dulu kupikir saat umur 25 nanti, semuanya akan terasa jelas. Kupikir aku akan jadi orang dewasa yang tahu apa yang harus dilakukan setiap hari. Tapi nyatanya? Aku masih sering ragu, masih suka merasa kehilangan arah, masih belajar menerima bahwa hidup tak selalu sesuai rencana. Ada hari-hari di bulan ini yang aku lewati dengan tawa. Ada juga yang sunyi, yang membuatku diam menatap langit dan bertanya: “Apakah aku sudah cukup?” Aku melihat ke belakang, ke tahun-tahun yang telah lewat. Ada begitu banyak hal yang ingin aku peluk—kesalahan, keputusan nekat, mimpi yang tertunda, hati yang pernah patah, dan keberanian yang tumbuh perlahan. Aku mungkin belum jadi versi terbaik dari diriku, tapi aku tahu aku sedang menuju ke sana, meski dengan langkah-langkah kec...