Langsung ke konten utama

Menjelajahi Malaysia

Pertama kali liburan ke Luar Negeri, saya memilih ke Negeri Upin-Ipin bersama keluarga besar FIP UPI. Liburan ke Malaysia menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Alhamdulillah, saya berkesempatan menjelajahi beberapa destinasi terkenal di Negeri Jiran, yaitu Menara Kembar Petronas, Batu Caves, dan mencicipi aneka kuliner di Kota Bharu. Perjalanan ini benar-benar membuka mata saya tentang keindahan, budaya, dan cita rasa yang ditawarkan Malaysia.

Setelah mendarat di Kuala Lumpur, saya langsung menuju Menara Kembar Petronas, ikon utama Malaysia. Rasanya luar biasa berdiri di depan menara megah yang pernah menjadi gedung tertinggi di dunia.

Berikutnya, saya berangkat ke Batu Caves. Ketika tiba, saya langsung disambut oleh patung Dewa Murugan yang menjulang tinggi dan tangga berwarna-warni menuju gua utama. Awalnya, saya merasa sedikit ragu untuk mendaki 272 anak tangga, sehingga saya tidak menaikinya. Namun, mengambil banyak foto di sana.


Dari Kuala Lumpur, saya terbang ke Kota Bharu, kota kecil di Kelantan yang terkenal dengan street food-nya. Begitu tiba, saya langsung menuju Pasar Siti Khadijah, tempat di mana berbagai hidangan tradisional Kelantan tersedia. Saya mencoba Tomyam Seafood dan Teh Tarik, hidangan yang enak dan menulis ini saya jadi pengen mencoba kembali. Selain itu, saya juga mencicipi Keropok Lekor, cemilan berbahan dasar ikan yang gurih dan kenyal. 

Liburan ke Malaysia benar-benar daebakkk! Dari kemegahan Menara Kembar Petronas, kekayaan budaya di Batu Caves, hingga petualangan kuliner di Kota Bharu, semuanya meninggalkan kesan mendalam. Malaysia adalah tempat yang menawarkan begitu banyak hal, dari modernitas hingga tradisi, semuanya berpadu dengan sempurna.

Semoga suatu saat saya bisa kembali lagi ke Malaysia bersama Abang Cuamikk, aamiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pria matang atau setengah matang?

Sore itu, gue duduk di warung kopi Jogja, menikmati segelas teh manis yang masih mengepul. Mbok warung nanya karena gue beli indomie rebus pakai telur tapi jangan pakai bawang goreng, "Mau mateng atau setengah mateng, Neng?" Gue langsung jawab, "Mateng aja, buk, soalnya selera saya mas-mas Jawa matang yang kalau dipanggil jawabnya dalam, sayang."sambil nada bercanda, yang langsung diketawain sama temen-temen gue. ANG ANG ANG. [Eh btw gue cuma bercanda aja ya, gue sih gak milih harus suku apa. Asalkan sukunya jangan rorombeheun wae lah ya!]  Hidup ini kadang kayak pesenan telur di warkop. Ada yang lebih suka setengah matang, ada yang maunya mateng. Sama kayak pilihan hidup, ada yang masih ragu-ragu, ada yang udah yakin melangkah. Gue sih, kalau soal pilihan, maunya yang pasti-pasti aja. Kata orang, hidup itu harus dijalani dengan santai. Tapi gimana mau santai kalau tiap hari harus mikirin kerjaan, nulis apa lagi ya buat blogspot, sama chat yang cuma dibaca tanpa dib...

Serta Mulia, Nifa.

Bulan Juni datang lagi. Entah kenapa, rasanya bulan ini selalu membawa semacam nuansa yang berbeda—lebih tenang, lebih reflektif, lebih... dalam. Mungkin karena di bulan ini aku kembali bertambah usia. Kini aku 25. Seperempat abad. Dulu kupikir saat umur 25 nanti, semuanya akan terasa jelas. Kupikir aku akan jadi orang dewasa yang tahu apa yang harus dilakukan setiap hari. Tapi nyatanya? Aku masih sering ragu, masih suka merasa kehilangan arah, masih belajar menerima bahwa hidup tak selalu sesuai rencana. Ada hari-hari di bulan ini yang aku lewati dengan tawa. Ada juga yang sunyi, yang membuatku diam menatap langit dan bertanya: “Apakah aku sudah cukup?” Aku melihat ke belakang, ke tahun-tahun yang telah lewat. Ada begitu banyak hal yang ingin aku peluk—kesalahan, keputusan nekat, mimpi yang tertunda, hati yang pernah patah, dan keberanian yang tumbuh perlahan. Aku mungkin belum jadi versi terbaik dari diriku, tapi aku tahu aku sedang menuju ke sana, meski dengan langkah-langkah kec...

Apakah Pendidikan Tinggi bagi Perempuan untuk Menyaingi Laki-laki?

Pendidikan adalah hak setiap individu, tanpa memandang gender, dan merupakan sarana untuk mengembangkan potensi, memperluas wawasan, serta memperoleh keterampilan yang berguna dalam kehidupan. Dengan pendidikan, perempuan dapat lebih mandiri dalam berpikir dan bertindak, serta memiliki kepercayaan diri yang lebih besar dalam menghadapi berbagai tantangan. Pendidikan tinggi bagi perempuan bukanlah sarana untuk menyaingi laki-laki, melainkan untuk memberdayakan diri dan memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat. Dalam era modern, perempuan memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi intelektualnya, menggali ilmu pengetahuan, serta meningkatkan kualitas hidupnya. Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang memperluas wawasan, membangun karakter, dan meningkatkan kemampuan dalam berbagai aspek kehidupan. Perempuan yang berpendidikan tinggi memiliki kesempatan lebih besar untuk mengambil keputusan yang bijak dalam kehidupan pribadi, keluarga, ...