Langsung ke konten utama

Postingan

Akan ada banyak cara untuk bahagia

Setiap orang di dunia ini pasti menginginkan kebahagiaan. Sejak kecil, kita diajarkan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bahagia. Namun, seiring waktu, kita mulai menyadari bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang selalu mudah diraih , dan lebih dari itu, kita pun sering dibingungkan oleh pertanyaan: apa sebenarnya arti bahagia itu? Seringkali, kita mengira bahwa kebahagiaan hanya bisa ditemukan saat semua berjalan sesuai keinginan—saat kita memiliki pekerjaan impian, saat kita dicintai tanpa syarat, saat kita berhasil meraih prestasi besar, atau saat kehidupan terlihat sempurna di mata orang lain. Tapi kenyataannya, hidup tidak sesederhana itu. Tidak semua rencana berjalan mulus, dan tidak semua harapan akan menjadi kenyataan. Ada kalanya kita lelah, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah. Namun justru di titik-titik seperti itulah kita bisa belajar satu hal penting: kebahagiaan tidak selalu harus datang dari sesuatu yang besar atau luar biasa. Kebahagiaan bisa hadir dalam bentuk...
Postingan terbaru

Serta Mulia, Nifa.

Bulan Juni datang lagi. Entah kenapa, rasanya bulan ini selalu membawa semacam nuansa yang berbeda—lebih tenang, lebih reflektif, lebih... dalam. Mungkin karena di bulan ini aku kembali bertambah usia. Kini aku 25. Seperempat abad. Dulu kupikir saat umur 25 nanti, semuanya akan terasa jelas. Kupikir aku akan jadi orang dewasa yang tahu apa yang harus dilakukan setiap hari. Tapi nyatanya? Aku masih sering ragu, masih suka merasa kehilangan arah, masih belajar menerima bahwa hidup tak selalu sesuai rencana. Ada hari-hari di bulan ini yang aku lewati dengan tawa. Ada juga yang sunyi, yang membuatku diam menatap langit dan bertanya: “Apakah aku sudah cukup?” Aku melihat ke belakang, ke tahun-tahun yang telah lewat. Ada begitu banyak hal yang ingin aku peluk—kesalahan, keputusan nekat, mimpi yang tertunda, hati yang pernah patah, dan keberanian yang tumbuh perlahan. Aku mungkin belum jadi versi terbaik dari diriku, tapi aku tahu aku sedang menuju ke sana, meski dengan langkah-langkah kec...

Langit bulan Juni

  Langit di bulan Juni selalu tampak indah. Pagi datang dengan lembut. Udara sejuk menyapa pelan. Matahari muncul dari timur dengan sinar keemasan. Langit mulai berubah warna dari gelap ke biru muda. Awan tipis perlahan bergerak. Semuanya terasa tenang dan damai. Setiap pagi di bulan Juni, langit seperti memberi semangat baru. Burung-burung terbang rendah. Suara kicauan mereka mengisi udara. Langit biru bersih tanpa banyak awan. Kadang hanya ada satu atau dua gumpalan putih. Mereka bergerak perlahan di atas kepala. Langit terlihat sangat luas. Anak-anak berangkat ke sekolah. Mereka menatap langit sambil berjalan. Mereka merasa senang melihat pagi yang cerah. Seorang ibu menyapu halaman. Ia berhenti sejenak dan menatap langit. “Hari ini cerah,” katanya. Ia tersenyum sendiri. Langit memang membawa bahagia. Langit bulan Juni berbeda dari bulan lain. Ia lebih cerah dan ringan. Awan tidak terlalu tebal. Hujan jarang turun. Jika hujan datang, biasanya sebentar saja. Setelah itu langi...

Kesepian dalam Keramaian

Entah kenapa aku merasa sepi padahal sedang banyak orang. Suasana di sekitarku ramai, penuh tawa dan cerita. Tapi ada bagian dalam diriku yang tetap hening. Seolah aku tak benar-benar hadir di tengah keramaian itu. Tubuhku ada, tapi pikiranku melayang entah ke mana. Terkadang energiku habis seperti disedot oleh mereka. Aku mendengarkan, mencoba memahami, ikut tertawa saat mereka tertawa, mengangguk saat mereka bercerita. Namun setelah semuanya usai, aku hanya ingin menyendiri. Seperti ada kelelahan yang tak bisa dijelaskan, bukan di badan, tapi di jiwa. Aku mulai menyadari, bukan semua pertemuan memberi kenyamanan. Ada pertemuan yang justru membuatku merasa lebih sendiri. Aku ada, tapi tak terasa. Aku hadir, tapi seperti tidak diperhatikan. Aku bicara, tapi tak benar-benar didengar. Lama-lama, aku mulai mempertanyakan arti dari kebersamaan itu sendiri. Orang-orang mengira aku baik-baik saja karena mereka melihat aku tersenyum. Mereka tak tahu betapa sering aku menyembunyikan lelahku di...

PAUD, Seni, dan Menari

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan tahap awal dalam perkembangan anak yang memiliki dampak besar terhadap kehidupannya di masa depan. Pada tahap ini, anak-anak mengalami pertumbuhan pesat dalam berbagai aspek, termasuk kognitif, sosial, emosional, dan motorik. Salah satu pendekatan yang efektif dalam PAUD adalah melalui seni dan menari, yang dapat memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermanfaat bagi perkembangan. Seni merupakan elemen penting dalam pendidikan anak usia dini. Dengan melibatkan seni dalam pembelajaran, anak-anak dapat mengembangkan kreativitas, keterampilan motorik, serta kemampuan berpikir kritis. Seni juga menjadi sarana bagi anak untuk mengekspresikan emosi dan perasaan anak dengan cara yang unik. Menari sebagai salah satu bentuk seni gerak memiliki peran yang sangat penting dalam pertumbuhan anak. Melalui gerakan tubuh yang dinamis, anak-anak dapat mengembangkan keseimbangan, koordinasi motorik kasar, dan fleksibilitas tubuh. Selain itu, menari ...

Pandangan tentang musik: Haram atau halal?

Sejak kecil, saya sudah terbiasa mendengar musik. Entah itu dari YouTube, televisi, atau hanya suara gitar yang dimainkan oleh orang lain. Musik bagi saya adalah bagian dari kehidupan, sesuatu yang mengiringi hari-hari dengan warna dan makna. Bagi saya, musik bukan hanya untuk hiburan. Musik adalah seni, ekspresi, dan cara manusia berkomunikasi dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kadang, lirik sebuah lagu bisa lebih mengena dibandingkan nasihat panjang lebar dari orang lain. Tentu saja, sebagai seorang muslimah, saya juga pernah bertanya-tanya: apakah musik itu haram? Namun, semakin saya mencari tahu dan mendalami, saya menyadari bahwa ada banyak pandangan dalam Islam tentang hal ini. Beberapa ulama berpendapat bahwa musik itu haram, sementara yang lain membolehkan dengan syarat tertentu. Saya pribadi mengikuti pandangan yang lebih moderat, yang mengatakan bahwa musik itu boleh selama tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Saya...

Pria matang atau setengah matang?

Sore itu, gue duduk di warung kopi Jogja, menikmati segelas teh manis yang masih mengepul. Mbok warung nanya karena gue beli indomie rebus pakai telur tapi jangan pakai bawang goreng, "Mau mateng atau setengah mateng, Neng?" Gue langsung jawab, "Mateng aja, buk, soalnya selera saya mas-mas Jawa matang yang kalau dipanggil jawabnya dalam, sayang."sambil nada bercanda, yang langsung diketawain sama temen-temen gue. ANG ANG ANG. [Eh btw gue cuma bercanda aja ya, gue sih gak milih harus suku apa. Asalkan sukunya jangan rorombeheun wae lah ya!]  Hidup ini kadang kayak pesenan telur di warkop. Ada yang lebih suka setengah matang, ada yang maunya mateng. Sama kayak pilihan hidup, ada yang masih ragu-ragu, ada yang udah yakin melangkah. Gue sih, kalau soal pilihan, maunya yang pasti-pasti aja. Kata orang, hidup itu harus dijalani dengan santai. Tapi gimana mau santai kalau tiap hari harus mikirin kerjaan, nulis apa lagi ya buat blogspot, sama chat yang cuma dibaca tanpa dib...